Seringkali kita melihat pada Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian suatu Group Perusahaan, terdapat pos atau akun di non-current assets yaitu Goodwill.

Pembaca laporan keuangan tentunya ingin mengetahui lebih banyak apakah yang dimaksud dengan Goodwill. Pos ini bukanlah suatu pos yang seringkali ditemui pada kebanyakan laporan keuangan.

Goodwill yang tersaji pada Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian merupakan pos yang istimewa dikarenakan hanya muncul pada Laporan Keuangan Konsolidasian (Consolidation Financial Statement), pos ini tidak akan disajikan pada Laporan Keuangan Tersendiri (Separate Financial Statement).

Pemahaman tentang Goodwill untuk mudahnya bagi pembaca laporan keuangan, dapat diartikan sebagai suatu perolehan berupa aset tidak berwujud dari pengambilalihan kepemilikan saham dari pemegang saham sebelumnya (the previous shareholders) pada suatu perusahaan yang diakuisisi. Dimana pada akhirnya pemegang saham baru tersebut menjadi induk dari perusahaan yang diakuisisi.

Pemahaman yang sederhana tersebut dirumuskan berdasarkan praktik yang lazim terjadi. Goodwill yang diperoleh pemegang saham baru selaku induk perusahaan dari perusahaan yang diakuisi mencerminkan bahwa terdapat suatu nilai:

  •  over (di atas) atau
  • under (di bawah)
    atas nilai buku saham yang diakuisisi diukur dari harga yang dibayarkan oleh pemilik saham baru kepada pemegang saham lama.

Secara fundamental, Goodwill menggambarkan bahwa akuisisi oleh pemilik saham baru bahwa perusahaan yang dimilikinya melalui cara akuisisi tersebut terdapat suatu intangible assets (aset-aset tidak berwujud) yang kini didapatnya/dimilikinya selain dari pada face value of shares dari perusahaan yang kini berstatus sebagai anak perusahaannya (subsidiary company).

Goodwill yang diperoleh induk perusahaan dari hasil akuisisi (anak perusahaan) dapat berupa:

  • keunggulan teknologi,
  • sumber daya manusia yang berkualitas,
  • hak-hak istimewa atas produk,
  • pengakuan atas merek dagang,
  • kualitas aset tetap,
  • kepatuhan administrasi perpajakan, dan lain-lainnya.

Goodwil yang demikian layak untuk diakui sebagai komponen aset.

Totalitas nilai Goodwill dihitung secara keseluruhan termasuk nilai wajar kepentingan non pengendali pada aspek akusisi, masuk dalam rumusan perhitungan.

Sehingga Goodwill tidak hanya dimiliki oleh entitas induk tetapi juga dimiliki oleh kepentingan non pengendali.

Oleh karena itu Goodwill yang diperoleh pada kali pertama (initial measurement), pada periode laporan keuangan berikutnya (subsequent measurement) sesuai panduan standar akuntansi mewajibkan dilakukannya pengukuran nilai wajar untuk memastikan tidak terjadinya distorsi pada nilai perolehannya.

Prosedur yang demikian ini, dalam rangka memberikan keyakinan kepada pengguna laporan keuangan bahwa Goodwill sebagai intangible assets masih memberikan nilai tambah pada kualitas keuangan dan tidak ada indikasi kemungkinan terjadinya penurunan nilai aset tidak berwujud tersebut (impairment).

Ilustrasi terjadinya Goodwill, dapat disimulasikan sebagai berikut:

Bagi PT Jagoan Unggulan, target akuisisi pada salah satu pemegang saham PT Siap Alih (yaitu PT Bakal Diambil) harus mengarah pada dapat diperolehnya control hak suara, sehingga pada akhir tahap akuisisi PT Jagoan Unggulan berkewajiban mengkonsolidasikan laporan keuangan atas PT Siap Alih.

Setelah tanggal akuisisi, maka kedudukan kedua Perusahaan yang masih ada yaitu PT Aman Damai dan PT Cukup Aman menjadi non-controlling interest atau kepentingan non-pengendali sebesar sisa yang tersedia atas kepemilikan saham di PT Siap Alih.

Pada praktiknya, skenario akusisi seringkali mengalami perubahan-perubahan sejalan dengan perkembangannya proses akuisisi yang berlangsung. Skema untuk tetap memiliki kepentingan kendali (control interest) bagi pihak pengakuisisi (acquirer) mendorong nilai transaksi menjadi material.

Signifikansi materialitas akuisisi dikarenakan pihak pengakusisi secara langsung akan mengambil bagian dari kepemilikan aset dan liabilitas, oleh karena itu ketepatan mengidentifikasi aset dan liabilitas PT Siap Alih yang diambil alih tersebut sangat penting menjadi perhatian PT Jagoan Unggulan (mengacu pada ilustrasi di atas).

Ada suatu potensi risiko seperti:

  • kualitas aset tetap yang kurang baik,
  • persediaan yang tidak akurat,
  • tidak akuratnya nilai wajar instrumen keuangan,
  • piutang usaha yang belum/kurang tercatat,
  • utang pajak yang belum/kurang tercatat, dan
  • utang (liabilitas kontijensi) kepada sumber daya manusia karena permasalahan hubungan industrial.
    adalah diantara hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat mengindentifikasi aset dan liabilitas yang diambil alih.

Risiko-risiko tersebut akan men-discount nilai akuisisi dan bilamana hasil akhir nilai akuisisi setelah discount berada di bawah nilai buku yang dibeli, maka makna Goodwill bergeser menjadi keuntungan pembelian diskon.

Kedua perusahaan lainnya yaitu PT Aman Damai dan PT Cukup Aman, wajib melibatkan diri dalam proses akusisi pada proses review hasil dari identifikasi aset dan liabilitas PT Siap Alih yang diambil alih PT Jagoan Unggulan.

Goodwill yang tersajikan juga ikut dimiliki oleh kedua perusahaan tersebut (sebagai pihak yang berposisi sebagai non-controlling interest atau kepentingan non-pengendali).

Konsekuensi ini ditunjukkan sebagai wujud dari entitas konsolidasian tercermin pada bagian Ekuitas dimana disajikan secara terpisah pada equity attributable to the owner (ekuitas yang diatribusikan ke pemilik entitas induk) dan non-controlling interest (kepentingan non-pengendali).

Akuntansi keuangan menggambarkan berapa nilai premium on acquisition atau discount on acquisition pada akun Goodwill yang disajikan pada Laporan Keuangan.

  • Akuisisi dengan nilai premium tersajikan pada Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian.
  • Sedangkan akuisisi dengan nilai discount tersajikan pada Laporan Laba Rugi dan Pendapatan Komprehensif Lainnya Konsolidasian.

Mudah-mudahan para pembaca Budiman, mendapat gambaran yang cukup pada saat membaca Laporan Keuangan Konsolidasian bila bertemu dengan pos laporan keuangan yang bernama “Goodwill”.

Bilamana ingin mendalami lebih luas tentang Goodwill, silakan membaca:

  • Rilis standar akuntansi keuangan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 22 tentang Kombinasi Bisnis.
  • Referensi lainnya adalah International Financial Reporting Standards (IFRS) Nomor 3 tentang Business Combinations.

Saya mengucapkan terima kasih kepada pembaca yang budiman, yang telah meluangkan waktu membaca ulasan sederhana ini. Sampai jumpa pada ulasan berikutnya.